blank

Saham PT Bayan Resources Tbk. (BYAN) kembali menjadi perhatian pelaku pasar seiring mencuatnya kabar mengenai rencana akuisisi saham pengendali perusahaan tambang batu bara tersebut oleh pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam.

Terbaru, Haji Isam disebut tengah mengajukan penawaran sekitar US$3 miliar atau Rp52,7 triliun untuk mengakuisisi sekitar 62% saham BYAN yang dimiliki keluarga Low Tuck Kwong. Informasi tersebut dilaporkan Bloomberg dan kembali menjadi sorotan pasar pada September 2026.

Nilai penawaran tersebut disebut lebih rendah dibandingkan nilai pasar BYAN. Berdasarkan data perdagangan per 11 September 2026, saham BYAN berada di level sekitar Rp15.900 per saham, dengan kapitalisasi pasar sekitar Rp530 triliun.

Isu akuisisi tersebut sebelumnya juga sempat memicu volatilitas tinggi pada saham BYAN. Pada Agustus 2026, saham Bayan bahkan tercatat mengalami kenaikan signifikan seiring beredarnya rumor mengenai kemungkinan perubahan kepemilikan.

Kinerja Semester I 2026 Menguat

Di tengah rumor aksi korporasi tersebut, fundamental BYAN masih menunjukkan pertumbuhan positif.

Pada semester I 2026, Bayan Resources membukukan pendapatan sekitar US$1,74 miliar, naik 7,29% secara tahunan dibandingkan US$1,62 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan terutama berasal dari penjualan batu bara kepada pihak ketiga dan pihak berelasi.

Dalam laporan keuangan enam bulan pertama 2026, BYAN mencatat pendapatan sekitar Rp29,92 triliun dan laba bersih Rp7,05 triliun. Laba tersebut tumbuh sekitar 24,4% dibandingkan laba bersih semester I 2025 sebesar Rp5,67 triliun.

EBITDA BYAN juga meningkat 17,8% menjadi sekitar Rp10,43 triliun. Margin laba bersih tercatat sekitar 23,6%, menunjukkan profitabilitas perusahaan masih relatif kuat.

blank

Prospek Saham BYAN

Dari sisi fundamental, BYAN masih memiliki sejumlah keunggulan, termasuk posisi sebagai salah satu produsen batu bara berbiaya rendah di Indonesia. Bayan mengoperasikan proyek pertambangan di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan.

Namun, investor perlu mencermati valuasi saham yang sudah relatif tinggi serta risiko penurunan prospek batu bara termal dalam jangka panjang. Selain itu, ketidakpastian mengenai isu akuisisi dapat membuat pergerakan saham BYAN menjadi lebih volatil.

Bagi investor, perkembangan berikutnya yang paling penting adalah kejelasan resmi mengenai negosiasi akuisisi, termasuk harga transaksi, struktur pembelian saham, serta respons dari pihak Bayan Resources dan pemegang saham pengendali.

Dengan fundamental yang masih kuat tetapi dibayangi valuasi tinggi dan ketidakpastian aksi korporasi, saham BYAN berpotensi tetap menjadi salah satu saham batu bara yang paling banyak diperhatikan pasar dalam beberapa waktu ke depan.

Catatan: kabar mengenai tawaran akuisisi tersebut masih merupakan laporan mengenai proses negosiasi dan belum dapat dianggap sebagai transaksi yang telah selesai.