
JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali ditutup di zona negatif pada perdagangan Rabu (29/7/2026). Koreksi sebesar 0,64% membawa indeks berakhir di level 6.091,39, sekaligus memperpanjang tren pelemahan menjadi enam sesi perdagangan berturut-turut.
Pada awal perdagangan, IHSG sempat bergerak positif dan menyentuh level tertinggi harian di kisaran 6.174. Namun, tekanan jual yang meningkat pada sesi kedua mendorong indeks berbalik arah hingga sempat menyentuh level terendah sekitar 6.029 sebelum akhirnya ditutup di level 6.091.
Data perdagangan menunjukkan aktivitas investor masih relatif tinggi dengan nilai transaksi mencapai sekitar Rp22,9 triliun. Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 177 saham menguat, 468 saham melemah, dan 148 saham stagnan, mengindikasikan tekanan jual masih mendominasi pasar.
Pelemahan IHSG dipimpin oleh sektor properti yang terkoreksi sekitar 2,75%, diikuti sektor industri sebesar 2,67%, transportasi dan logistik sebesar 1,77%, infrastruktur sebesar 1,48%, serta energi sebesar 1,26%. Sementara itu, sektor teknologi, barang konsumen primer, dan kesehatan masih mampu mencatatkan penguatan tipis sehingga menjadi penahan pelemahan indeks yang lebih dalam.
Pelaku pasar menilai koreksi yang berlanjut mencerminkan sikap risk-off investor di tengah minimnya katalis positif, baik dari dalam negeri maupun global. Aksi ambil untung pada sejumlah saham berkapitalisasi besar turut membebani pergerakan indeks sepanjang sesi perdagangan.
Di sisi lain, investor masih menantikan sejumlah sentimen yang berpotensi menggerakkan pasar, mulai dari perkembangan kebijakan moneter global, stabilitas nilai tukar rupiah, hingga rilis laporan keuangan emiten untuk semester pertama tahun ini. Faktor-faktor tersebut diperkirakan akan menjadi penentu arah pergerakan IHSG dalam jangka pendek.
Secara teknikal, pelemahan yang berlangsung selama enam hari berturut-turut menunjukkan momentum pasar masih berada dalam fase konsolidasi. Pelaku pasar disarankan untuk mencermati area support terdekat sebagai acuan pengambilan keputusan investasi, sembari tetap selektif memilih saham yang memiliki fundamental kuat dan prospek kinerja yang solid.
Untuk perdagangan berikutnya, volatilitas diperkirakan masih akan mewarnai pergerakan IHSG. Arah aliran dana asing, sentimen eksternal, serta kinerja emiten diperkirakan menjadi faktor utama yang menentukan apakah indeks mampu menghentikan tren pelemahan atau melanjutkan koreksi dalam jangka pendek.




