
TOTALITASNEWS.COM, SINJAI – Di tengah perbukitan hijau Kecamatan Sinjai Borong, berdiri sebuah rumah mungil dengan dinding kokoh dan atap baru yang berkilau di bawah sinar matahari pagi. Dari balik pintu kayu yang baru dicat, terdengar tawa anak-anak.
Rumah itu milik Fandi Hasbullah, warga Dusun Bonto Manai, Desa Barambang. Dia salah seorang penerima manfaat Program Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) dari Pemerintah Kabupaten Sinjai.
Dulu, rumah Fandi jauh dari kata layak. Dindingnya rapuh, atap bocor, dan lantainya masih berupa tanah. Setiap hujan turun, air merembes ke dalam rumah, membuat malam-malam mereka tak pernah benar-benar tenang. Kini, keadaan berubah. Rumahnya berdiri kukuh, dengan ruang tamu sederhana, dapur bersih, dan lantai yang mengilap.
“Rumah kami sebelumnya jauh dari kata layak. Tapi berkat kepedulian Ibu Bupati dan Bapak Wakil Bupati, kami kini memiliki rumah yang sehat, aman, dan layak huni,” tutur Fandi dengan suara bergetar penuh syukur.
Baginya, bantuan ini lebih dari sekadar renovasi fisik . Ia adalah bukti bahwa pemerintah hadir di tengah masyarakat pelosok yang selama ini merasa jauh dari perhatian.
“Meski kami tinggal jauh dari kota, cahaya dan kebahagiaan itu akhirnya datang,” ujarnya lirih. “Semoga semakin banyak warga Sinjai yang merasakan hal yang sama.”
Baca Juga: Tertibkan Bangunan Liar di Pasar Sentral Sinjai
Program yang Menyentuh Kehidupan Warga Pelosok
Program RTLH yang dijalankan Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (Disperkimtan) Sinjai menjadi wujud nyata kepedulian pemerintah daerah terhadap warga kurang mampu.
Pada tahun pertama kepemimpinan Bupati Andi Nurhidayati Ratnawati dan Wakil Bupati A. Mahyanto, program ini menyasar 103 unit rumah warga miskin di seluruh kecamatan.
Rinciannya, 10 unit bersumber dari APBD, 90 unit dari APBN, dan 3 unit lainnya dari BAZNAS Sinjai.
Menurut Kepala Disperkimtan Sinjai, A. Syarifuddin, tahun ini fokus program semakin luas dan menyeluruh.
“Kalau tahun sebelumnya hanya memperbaiki atap, lantai, dan dinding, tahun ini kami tambahkan dapur dan sanitasi. Rumah yang kami hadirkan bukan hanya layak huni, tetapi juga sehat — sebagai langkah pencegahan terhadap stunting dan gizi buruk,” jelasnya.
Dengan peningkatan cakupan tersebut, dana stimulan yang diberikan juga bertambah menjadi Rp 25 juta per rumah.
Lebih dari Sekadar Rumah
Di banyak tempat, bantuan rumah sering hanya dianggap proyek fisik. Namun di Sinjai, RTLH menjelma menjadi gerakan sosial yang membawa perubahan nyata. Rumah baru bukan hanya tempat berteduh, tetapi juga sumber martabat dan semangat hidup baru bagi warga.
Kini, di rumah kecilnya, Fandi Hasbullah bisa menikmati malam tanpa khawatir atap bocor. Anak-anaknya belajar dengan nyaman di ruang yang bersih dan terang. Istrinya pun lebih leluasa memasak di dapur yang tertata rapi.
Bagi mereka, rumah baru ini bukan hanya tentang tembok dan genteng baru, tetapi juga tentang harapan yang tumbuh kembali — harapan akan masa depan yang lebih baik.
Langkah Kecil, Dampak Besar
Kebijakan Pemkab Sinjai lewat program RTLH telah menorehkan cerita-cerita kecil yang menyentuh hati. Di pelosok yang jauh dari pusat kota, setiap rumah yang direnovasi menghadirkan kebahagiaan baru.
Program ini juga memperlihatkan bahwa pembangunan tak hanya soal infrastruktur besar, tetapi tentang menyentuh kehidupan manusia secara langsung.
Seperti yang ditegaskan Syarifuddin, program ini menjadi bagian penting dari strategi pemerintah dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat pedesaan secara menyeluruh.
Sinjai yang Semakin Berdaya
Kini, Dusun Bonto Manai menjadi saksi perubahan. Deretan rumah baru berdiri dengan wajah segar. Warga tak lagi takut hujan, tak lagi tidur di lantai tanah. Anak-anak bisa belajar tanpa terganggu rembesan air atau dinginnya angin malam.
Program RTLH telah membawa lebih dari sekadar pembangunan fisik — ia membawa kehangatan, rasa syukur, dan kebanggaan bagi mereka yang selama ini hidup di batas kesederhanaan.
Di tengah senja yang mulai turun, Fandi menatap rumah barunya dengan mata berbinar.
Bagi sebagian orang, mungkin rumah itu tampak sederhana. Namun bagi Fandi dan ribuan warga lainnya, rumah itu adalah simbol perubahan: bahwa pemerintah hadir, dan harapan itu nyata. (*)






