blank

JAKARTA – PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mulai memperlihatkan perubahan arah bisnis yang menarik perhatian pasar. Tak lagi hanya mengandalkan batu bara, perseroan kini agresif memperluas portofolionya ke sektor mineral, khususnya emas dan tembaga.

Langkah diversifikasi tersebut ditandai dengan ekspansi BUMI ke Australia melalui akuisisi Wolfram Limited, perusahaan yang memiliki aset tambang mineral di North Queensland. BUMI juga mengembangkan eksposur terhadap bisnis emas melalui aset Jubilee Metals.

Ekspansi mineral ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang BUMI untuk membangun sumber pertumbuhan baru di luar batu bara. Bahkan, perusahaan menargetkan kontribusi bisnis non-batu bara terus meningkat dalam beberapa tahun mendatang.

Kinerja Keuangan Ikut Menguat

Di tengah agresivitas ekspansi, kinerja keuangan BUMI pada kuartal I 2026 juga menunjukkan perkembangan positif.

Berdasarkan laporan perusahaan, pendapatan BUMI mencapai US$417,7 juta, meningkat 19,7% dibandingkan US$348,8 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Laba bersih juga meningkat 36,6% menjadi sekitar US$41,1 juta.

Kinerja tersebut memberikan modal penting bagi perseroan untuk melanjutkan strategi ekspansi sekaligus memperkuat bisnis pertambangan yang sudah berjalan.

Tembaga dan Emas Jadi Katalis Baru

Masuknya BUMI ke mineral menjadi semakin menarik karena emas dan tembaga merupakan komoditas yang memiliki prospek jangka panjang.

blank

Tembaga, misalnya, semakin dibutuhkan untuk elektrifikasi, jaringan listrik, kendaraan listrik dan berbagai proyek energi. Sementara emas tetap menjadi salah satu komoditas yang banyak dicari ketika harga emas global berada pada level tinggi.

BUMI sendiri telah mengakuisisi Wolfram dan menyiapkan aset tersebut untuk kembali beroperasi. Perusahaan sebelumnya menyebut Wolfram akan memberikan akses terhadap sumber daya tembaga sekaligus memperluas eksposur BUMI terhadap kawasan pertambangan emas-tembaga Australia.

Investor Mulai Melihat BUMI dengan Cerita Baru

Bagi investor, ekspansi ini berpotensi mengubah persepsi terhadap saham BUMI.

Selama bertahun-tahun, BUMI lebih dikenal sebagai emiten batu bara. Kini, perseroan mulai membangun narasi baru sebagai perusahaan sumber daya alam yang terdiversifikasi.

Jika proyek mineral berhasil mencapai produksi komersial dan memberikan kontribusi laba secara signifikan, maka sumber pendapatan BUMI tidak lagi terlalu bergantung pada siklus harga batu bara.

Namun, investor tetap perlu memperhatikan risiko. Ekspansi membutuhkan modal besar, sementara keberhasilan akuisisi belum otomatis menjamin peningkatan laba. Produksi, biaya operasional, harga komoditas, serta kemampuan manajemen mengintegrasikan aset baru akan menjadi faktor penting.

Dengan demikian, ekspansi emas dan tembaga menjadi salah satu cerita besar yang patut diperhatikan dari BUMI pada 2026. Jika strategi diversifikasi tersebut berjalan sesuai rencana, BUMI berpeluang memasuki fase pertumbuhan baru dan tidak lagi sekadar menjadi saham batu bara.