
JAKARTA – PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menunjukkan kinerja yang tetap solid di tengah tantangan industri batu bara global. Perseroan membukukan pertumbuhan pendapatan dan peningkatan laba pada 2026, didukung oleh kenaikan volume produksi serta penjualan batu bara yang mampu mengimbangi penurunan harga jual rata-rata komoditas tersebut.
Dalam laporan kinerja kuartal pertama 2026, BUMI mencatat pendapatan sebesar US$417,7 juta atau meningkat 19,7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Laba sebelum pajak hampir dua kali lipat secara tahunan menjadi US$55,3 juta, sementara laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk naik menjadi US$24,1 juta. Kenaikan tersebut ditopang oleh peningkatan volume produksi dan penjualan, serta efisiensi operasional melalui perbaikan rasio pengupasan lapisan tanah (strip ratio).
Di sisi operasional, BUMI membukukan produksi batu bara sebesar 19,2 juta ton dan penjualan 19,1 juta ton pada kuartal pertama 2026. Meski harga jual rata-rata batu bara turun sekitar 10% dibandingkan tahun sebelumnya, perseroan berhasil menjaga margin usaha melalui pengendalian biaya dan peningkatan produktivitas tambang.
Selain memperkuat bisnis inti, BUMI juga terus menjalankan strategi diversifikasi ke sektor mineral. Langkah ini dipandang sebagai upaya perusahaan untuk mengurangi ketergantungan terhadap bisnis batu bara sekaligus memperluas sumber pertumbuhan jangka panjang di tengah transisi energi global.
Dari sisi pasar modal, saham BUMI masih menjadi salah satu emiten dengan likuiditas tinggi di Bursa Efek Indonesia. Pergerakan saham perseroan diperkirakan tetap dipengaruhi oleh dinamika harga batu bara dunia, sentimen pasar, serta kemampuan perusahaan mempertahankan efisiensi operasional dan merealisasikan strategi diversifikasi bisnis.
Ke depan, pelaku pasar akan mencermati konsistensi kinerja keuangan BUMI pada semester berikutnya. Apabila tren peningkatan produksi dan efisiensi dapat dipertahankan, perseroan dinilai memiliki peluang untuk menjaga pertumbuhan laba meskipun menghadapi volatilitas harga komoditas global.






