blank

SELAYANG PANDANG KERAJAAN MANIPI SINJAI

Oleh: Drs. Muhannis, MM

Berbicara tentang Manipi hari ini, bayangan kita adalah gunung yang berselimutkan awan dengan jalan-jalan terjalnya ditambah dengan kisah-kisah yang berbau mitos dan legenda, walau sesungguhnya Manipi juga punya banyak bukti sejarah yang bisa dibanggakan.

Penamaan Manipi memang berselimutkan mitos yang terangkum dalam lembaran lontara. Penamaan Manipi menurut lontara Patturiolonga ri Turungang mengatakan bahwa Manipi itu berasal dari kata Macipik yang berarti sempit.

Dalam lontara itu disebutkan bahwa, mallaibiniki I Bungko na anakna Arung Karampuang, engkai natik ri alekna Turungang lolang2 mpawai asunna namadeceng mammitai abbanuang. Makkeddai ri makkunrainna, engkaro, manaik uita madeceng onrong, masagena, sisiapa. Iya nrinnia MACIPIK weggang dekna isseng na onroi rangeng-rangetta.

Asal usul penamaan Manipi bisa dikembangkan lagi melalui jalur bahasa Bugis. Manipi dalam bahasa Bugis berarti alam kubur atau alam akhirat sehingga kata Manipi ini selalu disandingkan dengan kata Tassililu yang bermakna tempat menenangkan diri atau bertenang-tenang yang juga bermakna bahwa alam akhirat adalah tempat menikmati hasil perjuangan dan ibadah saat di dunia sudah berakhir (info dari Pak Haji Syahruddin Fattah, penulis kamus bahasa Bugis Kuno).

Kalau penamaannya dari bahasa Bugis ini tidak ada masalah sesungguhnya karena memang, raja-raja Manipi dan masyarakatnya sejak lama sudah akrab dengan raja-raja Bugis khususnya Kerajaan Bone yang dibuktikan dengan banyaknya catatan harian raja-raja Bone yang mencatat khusus tentang Manipi dan Wawobulu atau Pitulimpoe ini.

Salah satunya adalah La Temmassonge yang menulis dalam lontara Catatan Harian beliau tanggal 10-4-1753 tentang wafatnya Raja Manipi. Beliau menulis,, datang Arung Turungang menyampaikan bahwa Arung Manipi meninggal satu minggu yang lalu,,.

Dalam perkembangannya, tempat yang tidak disukai oleh I Bungko tersebut justru didatangi oleh Manurung Liju putra dari La Remmang2, seseorang yang datang dari Majapahit atau Manjappai yang sedang bermukim di Terasa.

blank

Kedatangannya di Macipik atau Manipi disambut hangat oleh orang setempat. Dia mengajarkan ilmu bertani, beternak, menenun, menangkap ikan, dan lain-lain. Sebelum dia meninggal, dia mengajarkan prinsip-prinsip demokrasi dan tata pemerintahan yang baik. Dia mengajarkan bahwa pemimpin itu harus:

  • bija mammajiki kala bija mangodii
  • bija manrappung kala bija lammelak
  • bija ngampae kala bija nisampeang
  • bija paonang kala bija tallangang

Selain syarat pemimpin di atas, dia juga mengajarkan fungsi hukum atau bicara. Dia mengatakan bahwa hukum atau bicara itu sesuatu yang suci dan harus dihormati yang tidak bisa menguntungkan sepihak tetapi harus jujur dan adil. Dia mengatakan:

  • bodoi tanrisambung
  • lambere tanripolong
  • tinggi tanrilingkai
  • rapak tanrisaluki

Begitu dia meninggal, maka tidak ada yang merasa mampu menyamai kedudukannya, apatah lagi dikenal sebagai To Manurung sehingga yang memerintah di Manipi selanjutnya adalah To Matoa yang disebut To Matoa Manipi yakni Kasa Bulaeng Tali Bannang yang berkedudukan sebagai Ulu Anang. Beliau digantikan oleh Sawalang Daeng Manyombalang, Ampa Daeng Paola dan Dapi Deppalallo.

Setelah kepemimpinan Dapi Deppalallo, kepemimpinan berubah menjadi Karaeng.

Pada saat Apu Tappareng berkuasa di Bulobulo atau arung ke-5 Bulobulo tahun 1511, Gowa berhasil menaklukkan Bulukumba di bawah kepemimpinan Raja Gowa ke-9 Karaeng Tumapakrisika Kallonna sehingga Aputappareng berusaha menjalin hubungan dengan kerajaan di Wawobulu demi membendung serangan Gowa di Sinjai. Dia berusaha mendekati Manipi dan sukses menghasilkan perjanjian yang berbunyi:

Rekko natuoiki perrik tanata, siturungiki sitakdangkarangkangiwi, tessitajengang dokok inanre, nappaki sitolek ota sirekkok, malukki ulunna menrepa cinnongiwi, malukki toddanna, noppa cinnongiwi.

Kesepakatan ini mendapat restu pula dari pemimpin ADAT TALLUA ri Manipi yang dijabat oleh Lanru Daeng Mallatte dari Hulo, Palekori Daeng Pagala dari Kaluarang dan Bunga Doajang Daeng Tasuji dari Lembanna.

Hasilnya adalah, Sinjai tidak bisa ditaklukkan oleh Karaeng Tumapakrisika Kallonna, walau akhirnya takluk juga oleh pengganti beliau yakni Karaeng Tunipalangga raja Gowa ke-10.

Saat paling berkesan dan paling mewarnai perjalanan sejarah di Manipi adalah saat kedatangan Datu Halia di Manipi. Bagaimana tidak, Datu Halia yang bernama lengkap (versi Manipi) adalah La Muhammad Bau Karompa Petta Sappehalie Datu Halia adalah putra dari La Panaongi To Pawawoi Arung Amali, Sijelling dan Bisei Arumpone ke-20. Dia bersaudara dengan La Pareppa Sappewalie Karaeng Anak Moncong Matinroe ri Sombaopu Arumpone ke-19. Mereka adalah putra dari La Patau Matanna Tikka dengan Karaeng Pattukangan bin Sultan Abd. JALIL Raja Gowa.

DATU Hallia menikah dengan Besse Sanjata yang melahirkan Patongko Daeng Pasampo. Patongko menikah dengan I Lallo anak dari Puatta Kujoe dari Manipi dan Pacellai Daeng Tapajja dari Turungang. Istri lainnya adakah Puang Cemmo di Tassosok melahirkan I Tabbusassa Daeng Pairing dan Pallawagaoe Daeng Pahare yang menikah dengan Ceppa Daeng Macenning binti Arung Labuaja.

Datu Halie juga pernah menikah ke Wajo selain di Manipi tentunya. Di Wajo dia dinamakan La Muhammad Petta Maccambangnge ri Wajo Cellak Karompa Datu Halie. Di Wajo, dia menikah dengan I Nomba Petta Mone Datue ri Hulo, cucu dari I Mappasessu Daeng Manyampa Datu Pammana yang salah satu cicitnya adalah Prof. DR. MUH. AKIL mantan wakil rektor Unhas dan Ahli Penyakit Dalam.

IBU Besse Sanjata dari Datu Halie adalah Mariati Daeng Matajang sedangkan bapaknya adalah Makkatunreng Daeng Malompo anak Karaeng Kajang. DAtu Halie juga bernazab ke Besse Tonra cucu tokoh agama terkenal Syekh Yusuf yang menikah dengan Syekh Namrullah Arung Passauneng Timurung To Maloppona Tellulimpoe yang berasal dari Taribek Yaman dan masih punya hubungan darah dengan Rasulullah.

Pada saat Sinjai jatuh ke tangan Belanda tanggal 24 November 1859, maka Manipipun kena imbas dimana saat itu, Manipi diperintah oleh Magguliling Daeng Sitonra dan dilanjutkan oleh Patongko Daeng Pasampo.

Pada saat kekuasaan Patongko Daeng Pasampo, Belanda berupaya membujuk untuk menerima pemimpin baru yakni Besse Rameng karena takut dengan rumpun dan darah Gowa yang mengalir dalam tubuh Datu Halia yang ditakutkan akan memberontak kepada Belanda kelak walau ditolak oleh masyarakat karena menganggap Patongko lah yang paling wajar memimpin mereka.

Belanda tetap mendesak Pitulimpoe untuk menerima keinginan dari Belanda tersebut dan bayangan perang mulai muncul.

Untuk menekan Pitulimpoe dan Tellulimpoe termasuk Bulukumba, maka Singkerurukka raja Bone bersama Belanda menetapkan bahwa Sinjai dan Bulukumba menjadi Gouvernemenlander atau wilayah yang diperintah langsung oleh Belanda.

Penetapan SK-nya dikeluarkan bersama pada tanggal 13 Februari 1860, tapi Pitulimpoe termasuk Manipi tetap menolaknya. Karena Patongko dan masyarakat Manipi tetap bersikeras menolak permintaan Belanda, akhirnya tidak ada jalan lain selain serangan militer.

Pasukan Belanda dikirim dari Makassar untuk menyerang Manipi dan Turungang termasuk Suka, Balasuka dan Tombolo Pao dan Patongko dan pasukannya di bawah koordinasi Daeng Manangkasi sebagai orang terdekat Patongko tetap belum menyerah.

Pasukan Belanda meninggalkan Makassar dengan kapal perang ZM. LOO pada tanggal 3-4-1862 dengan komandan tempurnya di tangan HAA. NIELOE.

Pasukan Belanda tiba di Sinjai tanggal 4-4-1862 jelang Magrib yang dijemput oleh Borahima Daeng Paewa arung Lamatti, La Hemmak Daeng Mallengu mewakili Bulobulo. Hadir pula Daeng Mammak Arung Mangopi serta dua orang yang datang secara pribadi yang mengatakan wakil Manipi Turungang tapi ditolak oleh HA Nieloe karena bukan Patongko yang datang.

Rombongan menuju Manipi pada tanggal 5-4-1862 yang awalnya hanya 30 orang saja ditambah kuli dari orang lokal dengan bayaran khusus sebagai pembawa makanan, senjata, skop, parang, dan lain-lain.

Senjata beratnya antara lain 2 mortir 13 inci, 13 sappeur dan ratusan senapan. Tapi karena pertimbangan medan serta ditakutkan bahwa pasukan Turungang, Suka, Balasuka dan Tombolo Pao ikut bergabung ke Manipi, akhirnya pasukan dan senjata ditambah lagi plus buruh sebanyak 131 orang karena ditakutkan pemberani dari Suka, Balasuka serta Tombolo Pao mendapatkan pasokan senjata dari kerajaan lain seperti Wajo yang dekat dengan Wawobulu karena sesama rumpun Datu Halia termasuk Gowa. Selain itu, mereka masih satu ikatan konfederasi Pitulimpoe.

Pasukan Belanda tiba di Mangopi tanggal 7-4 dijemput arung Mangopi dan gallak Soppeng tanggal 8-4 tiba di Turungang dan tanggal 9-4 tiba di Tangngalembang. Asisten Residen JA. BAKKERS juga ikut dalam rombongan yang didampingi oleh juru bahasa Daeng Mattola dan minta untuk berunding di pinggir sungai Bintulang tapi gagal karena Patongko tidak mau hadir dan mempercayakan kepada keluarga dekatnya bernama Daeng Manangkasi untuk memimpin pertemuan dengan Belanda di Buntulang.

Belanda tetap menginginkan bahwa Patongko lah yang langsung hadir dan memerintahkan Daeng Manangkasi untuk menjemput Patongko tapi tetap gagal dan akhirnya Daeng Manangkasi menjamin untuk menerima keinginan Belanda dengan ketentuan tidak membakar rumah penduduk ataupun menembaki penduduk. Dia berjanji akan ke Lembangcina esok hari jam 13.30 dengan membawa semua kalompoang Manipi.

Dan benar esok harinya tepat waktu datanglah rombongan Manipi ke Lembang Cina atau Tangalembang dengan membawa kalompoang Manipi semuanya seperti:

  • bendera Macangnga
  • besi pakka
  • tombak kalula
  • payung taddung tanre
  • rantang
  • okong labbu

Semua kalompoang ini diantar oleh Adak Tallua ri Manipi terdiri dari Coe, Rampeang dan Bemba. Hadir pula mendampingi adalah Gellak Manipi Puang Coe dan sulewatang Manipi Palatang Daeng Mangoppo serta ratusan masyarakat pendukung Patongko daeng Pasampo yang kharismatik itu.

Arajang inilah yang digunakan dalam pelantikan Besse Rameng sebagai Karaeng Manipi merangkap Turungan secara adat sebagai tanda sahnya seorang raja di mata masyarakat. Kalompoang Manipi ini disandingkan dengan kalompoang Turungang sebagai syarat sahnya Besse Rameng sebagai penguasa Manipi bersama Turungang. Pelantikan secara adat ini berlangsung di Lembangcina tanggal 10 APRIL 1862.

Saat itu Terasa tidak menjadi target serangan karena dianggap milik Bone sementara Bone masih akrab dengan Belanda sehingga Terasa aman dalam ekspedisi militer ini. Posisi Terasa itu berada di sisi kanan sungai Tangka yang berdasarkan Perjanjian Caleppa 1565 antara Gowa Bone disepakati batasnya adalah Sungai Tangka.

Setelah Besse Rameng resmi memimpin Manipi dan Turungang usai pelantikannya sebagai Regent Manipi dan Turungang tanggal 1-8-1862 bersama-sama dengan Pahare Daeng Mangiri dari Tondong dan La Herrang Daeng PATOMPO arung Manimpahoi yang pelantikannya dipusatkan di Tondong walaupun sesungguhnya Besse Rameng itu telah dilantik menjadi seorang Ratu yang sah dengan kalompoang yang lengkap secara adat.

Selanjutnya usai terbentuknya Afdeling Sinjai atau Oostdistrichten Sinjai pada tanggal 15-11-1862 maka kekuasaan Manipi Turungang dibagi menjadi 4 kelompok kekuasaan yaitu:

  1. Arung Manipi Besse Rameng membawahi Manipi, Bulu, Manassa, Magala, Kajuara, Bungaiya, Buntulang, Pasampoang, Lembang Lembanna, Tabunge, Maconggi, Riango, dan Jenja.
  2. Sulewatang Manipi Baso Daeng Mamanjeng menguasai Kasuarang mencakup pula Samberaiya, Lembang Riango, Lembang Manipi, Salo Matea, Tacongo, Jepara, Cebo, Salo Bangkaiya, Parampanga, Katute, Borong Manipi, Bontoa, Kahai, Gori2, Lohe Batu dan Barae.
  3. Galla Soppeng La Toga menguasai Bulu, Sapearing, Kampala 1, 2 dan 3, Lembang, Lembang Cina dan Cabu.
  4. Arung Sapotinggi Nyompa Daeng Pabeta menguasai Inruk Lamung, termasuk Pattung, Balantieng, Tajuru, Batu, Bongki2, Kassibuleng, Jojong, Nangkaiya, Kalimbu.

Perlu difahami bahwa kepemimpinan tertinggi tetap di tangan Besse Rameng sebagai Karaeng Manipi sekaligus Turungang.

Sebagai wilayah regentschap, maka pemimpin tertinggi tetap atas persetujuan Belanda walau peran Dewan Adat tetap ada pasca Besse Rameng. Adapun sosok yang pernah menjabat sebagai regent di Manipi adalah:

  1. Besse Rameng mulai 1-8-1862 sampai 27-10-1865.
  2. Makkunasse Daeng Matekko mulai 27-10-1865 sampai 22-3-1873.
  3. Lebu Daeng Malluru sebagai caretaker sebelum ada Regent yang ditetapkan.
  4. Tammu Daeng Parenring mulai 23-3-1863 sampai 17-4-1773.
  5. Lebu Daeng Malluru 18-4-1873 sampai 3-3-1881.
  6. Baso Daeng Patinung mulai 3-8-1881 sampai 24-12-1896.
  7. Maddukelleng Puanta Laloa mulai 4-3-1881 sampai 2-8-1881.
  8. Baso Daeng Papada mulai 25-12-1896 sampai lahirnya kebijakan Adatgemeenschapt tahun 1913.

Selain regent, di Manipi juga pernah diangkat beberapa orang sebagai Sulewatang seperti La Nyorang Deppahakkang, Karambong Daeng Materru yang dilantik pada 17-6-1895 era regent Baso Daeng Patinung, Baso Daeng Mamanjeng Puang Tinggia, Petta Sau dan lain-lain. Sedangkan Puang Kali yang pernah menjabat sebagai Kadhi antara lain oleh Kali Butta Janggo, Kali Tuju, Kali Daoda Toheng Daeng Serang dan lain-lain.

Dari data regent di atas, tampaknya sangat lengkap tetapi data para arung Manipi, dari beberapa lontara silsilah yang penulis pernah lihat, tampaknya susah untuk diretas karena pemiliknya hanya menulis jalurnya secara vertikal saja yang dijabat oleh keluarganya sehingga sangat membingungkan.

Kesulitan lain adalah karena di antara pemilik lontara silsilah tidak pernah berembuk menyambung nazab itu secara berurut. Penulis juga berkali-kali mengemis untuk diperlihatkan tapi selalu gagal dan gagal sehingga data Manipi saya alihkan pada data kolonial karena akses data di Manipi dan sekitarnya sangat terbatas.

Salah satu contoh nama besar Manipi yang tidak tercatat di lontara yang ada di Manipi tapi tercatat dalam Lontara Raja Bone adalah keberadaan Arung La Mappasessa seperti yang dicatat oleh La Patau Arumpone. Dalam lontara Catatan Harian beliau menulis tanggal 2-10-1708:

Nabenni salompekna To Attangkilang naengka si Wawobulu ri Latimojong(istana La Patau di Cenrana Bone) kuassajingi I Mallu pada oroanena I La Mappasessa. Naiya tona nasiturusi se Wawobulu La Malluse iya Arung ri Turungang, La MAPPASESSA arung ri Manipi. Napada poanung tonna manakna.

Dari data ini jelas menunjukkan bahwa salah satu sosok yang pernah memimpin di Manipi adalah I Mappasessa yang tidak tercatat dalam lontara silsilah Manipi yang penulis pernah amati.

Perlu difahami pula bahwa sebelum adanya regent di Manipi. Struktur pemerintahannya terdiri dari:

  1. Puanta sebagai pemimpin tertinggi.
  2. Sulewatang penanggungjawab bidang hukum dan pabbarani.
  3. Kali sebagai pemimpin keagamaan.
  4. Ledeng bidang peradilan adat.
  5. GALLA pimpinan wilayah bawahan Puanta.
  6. Pinati untuk hal ritual.
  7. Jannang atau jabatan khusus.

Komposisi wilayah yang penulis urai di atas mengalami perubahan lagi saat pemberlakuan Adatgemeenschapt di Manipi tahun 1913 di bawah Baso Daeng Papada sampai Kepemimpinan awal dari Andi JayalangkarA Puatta Lombe menjelang kemerdekaan.

Saat pemberlakuan sistem Adatgemeenschapt ini, Terasa kembali bergabung dengan Pitu limpoe setelah lebih 50 tahun bergabung dengan Kahu di Bone tapi pemimpinnya tetap bergelar Karaeng sebagai penghormatan sementara yang lain diturunkan satu tingkat. Adapun komposisinya dan gelar barunya adalah:

  1. Kayutanang bergelar Gella.
  2. Hulo bergelar Kapala.
  3. Kaluarang bergelar Kapala.
  4. Kasuarang bergelar Kapala.
  5. Lembanba bergelar Kapala.
  6. Pusanti bergelar Kapala.
  7. Soppeng bergelar Galla.
  8. Barambang bergelar Kapala.
  9. Nangkae/Bongki2 bergelar Kapala.
  10. Bonto bergelar Aru.
  11. Kampungbaru bergelar Galla.
  12. Magala bergelar Kapala.
  13. Bihulo bergelar Kapala.
  14. Terasa bergelar KARAENG.
  15. Kampala bergelar Kapala.
  16. Batu bergelar Galla.
  17. Kalimbu bergelar Kapala.
  18. Tajjuru bergelar Galla.

Saya kira sudah cukup dan untuk lengkapnya mohon menunggu terbitnya bukuku berjudul HANUA SINJAI termasuk membahas tentang perjuangan orang Manipi pada perang kemerdekaan. TABEK LOMPO

SUMBER:

  • Lontara Patturiolongnga ri Turungang milik Puang Sahibe di kampung Soppeng.
  • Lontara Silsilah Manipi milik pak Ishak Manipi.
  • Catatan Sistem pemerintahan Manipi milik pak Abd. Kadir di Manipi.
  • daftar regent Oostdistrichten milik penulis.
  • Lontara Catatan Harian La Patau dan La Temmassonge milik penulis (copyan).
  • lontara Datu Halie milik penulis dan milik Ivan Akil di Wajo.
  • Ekspedisi Militer Belanda di Sinjai 1860-1871 koleksi penulis.
  • dll.