
TOTALITASNEWS.COM – Suasana hangat terasa di aula KJRI Hamburg pagi itu. Sekitar dua puluh anak muda Indonesia duduk melingkar, sebagian masih mengenakan seragam kerja.
Mereka datang bukan untuk urusan dokumen atau administrasi, melainkan untuk hal yang jauh lebih personal: membicarakan kesehatan mental.
Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia 2025, KJRI Hamburg bekerja sama dengan Life Architekture, lembaga konsultan psikologi dan life coaching, menggelar seminar bertajuk “Pelindungan WNI dan Kesehatan Mental.”
Kegiatan ini menjadi ruang refleksi bagi para peserta program Ausbildung dan FSJ yang tengah meniti karier di Jerman—sekaligus ruang aman untuk berbagi kisah dan belajar menjaga keseimbangan diri di tengah tekanan hidup di negeri asing.
Konjen RI Hamburg, Renata Siagian, dalam sambutannya menegaskan pentingnya membuka percakapan seputar kesehatan mental di kalangan WNI.
“Isu kesehatan mental bukan hal tabu. Justru perlu dibicarakan secara terbuka, karena banyak di antara kita yang menghadapi kesepian, kendala bahasa, adaptasi budaya, dan ekspektasi tinggi dari keluarga di tanah air,” ujarnya.
Renata juga menekankan bahwa pemerintah berkomitmen melindungi dan mengembangkan pekerja migran Indonesia, baik melalui kebijakan nasional maupun kerja sama bilateral yang dilakukan oleh Kementerian Luar Negeri (Kemlu) dan BP2MI.
Pada sesi pertama, Ifan Pandji Kresna (Konsul Protkons) dan Cahya Sumaningsih (Konsul Ekonomi) memaparkan berbagai upaya pelindungan WNI dan PMI yang dilakukan secara menyeluruh—mulai dari tahap pra-keberangkatan, masa penempatan, hingga purna tugas.
Peserta juga mendapat informasi praktis tentang ketentuan imigrasi dan ketenagakerjaan di Jerman, serta kesempatan berdiskusi langsung mengenai kendala yang mereka alami selama bekerja dan menetap di sana.
Memasuki sesi kedua, suasana berubah lebih personal. Coach Bayu Prihandito dari Life Architekture mengajak peserta memahami stres, mengenali emosi, dan membangun keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
Dalam sesi deep talk yang hangat dan terbuka, banyak peserta berbagi kisah tentang kerinduan pada tanah air, tekanan kerja, hingga cara mereka menumbuhkan afirmasi positif untuk bertahan.
Salah seorang peserta, Akmal, mengaku kegiatan ini memberinya energi baru.
“Adaptasi dan kesehatan mental itu penting. Lewat acara ini, saya merasa tidak sendiri. Terima kasih untuk KJRI Hamburg yang peduli pada kami, para perantau,” katanya.
Coach Bayu turut memberikan apresiasi atas langkah pemerintah yang semakin serius dalam memperhatikan kesejahteraan para pekerja Indonesia di luar negeri.
“Seminar seperti ini membuka ruang dialog dan menghapus stigma bahwa berbicara tentang kesehatan mental itu tabu,” ujarnya.
Menutup kegiatan, KJRI Hamburg mengajak seluruh masyarakat Indonesia di wilayah Jerman Utara untuk saling peduli, membangun solidaritas, dan menjaga kesehatan mental bersama.
Sebab, di tengah jarak dan tantangan hidup di negeri orang, ada kekuatan besar yang tumbuh dari rasa kebersamaan.
“Setiap perjalanan akan lebih ringan saat kita tahu bahwa kita tidak sendirian,” begitu pesan penutup dari KJRI Hamburg. (Lutfi)






