Dari dapur tradisional menuju produksi modern, para pengrajin gula aren di Desa Bulo-Bulo kini menapaki babak baru dalam perjalanan usahanya.

TOTALITASNEWS.COM, BANTAENG- Selama bertahun-tahun. Aroma nira yang direbus perlahan di tungku kayu yang menjadi keseharian para pengrajin gula aren di Desa Bulo-Bulo, Kecamatan Bulukumpa, Kabupaten Bulukumba mulai berkembang.

Utamanya pada proses pengadukan nira yang memakan waktu hingga enam jam lamanya yang kerap menguras tenaga. Belum lagi hasil gula yang tidak selalu seragam.

Kini, kondisi itu mulai berubah. Berkat sentuhan teknologi sederhana dari tim dosen Akademi Komunitas Industri Manufaktur (AK-Manufaktur) Bantaeng, para pelaku usaha lokal yang tergabung dalam merek “Aren Kita” merasakan angin segar.

Sejak Juli hingga Oktober 2025, tim pengabdi AK-Manufaktur Bantaeng hadir mendampingi masyarakat Bulo-Bulo melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM).

Program ini berfokus pada peningkatan efisiensi produksi dan penguatan identitas usaha gula aren lokal.

Puncak kegiatan berlangsung pada 27 September 2025, ketika tim menyerahkan alat pengaduk nira berbasis dinamo kepada para pengrajin.

Alat ini menjadi simbol perubahan—dari kerja manual yang melelahkan menuju sistem yang lebih efisien dan modern.

“Dengan penerapan teknologi sederhana ini, proses pengadukan menjadi lebih cepat dan hasil gula aren lebih seragam. Kami berharap inovasi ini dapat mendukung keberlanjutan usaha masyarakat,” ujar Ibnu Mansyur Hamdani, S.Pd., M.Mat., Ketua Tim Pengabdi.

Tak hanya menyerahkan alat, tim juga memberikan pelatihan singkat mengenai cara pengoperasian dan perawatan mesin.

Pendampingan ini bertujuan agar alat tersebut dapat dimanfaatkan dalam jangka panjang tanpa mengurangi kualitas hasil produksi.

Langkah inovatif ini dilanjutkan dengan pengujian mutu produk di Laboratorium Penguji BBSP Jasa Industri Hasil Perkebunan, Maritim, dan Mineral (BBSP JIHPMM), di bawah Kementerian Perindustrian RI.

Berdasarkan standar SNI 3743:2021 dan SNI 19-2896:1992, hasil uji menunjukkan bahwa gula aren “Aren Kita” memiliki kadar air 9,91%, kadar gula total 79,56%, serta kadar logam berat di bawah batas deteksi alat—menandakan produk ini aman dan memenuhi standar mutu nasional.

“Hasil uji menunjukkan produk gula aren mitra telah memenuhi persyaratan mutu nasional dan aman untuk dikonsumsi,” jelas Muhammad Irwan, M.T., anggota tim pengabdi.

Selain aspek teknis, tim AK-Manufaktur juga memberikan sentuhan pada branding dan identitas usaha. Melalui pendampingan pembuatan logo dan stempel resmi, “Aren Kita” kini memiliki wajah baru yang lebih kuat dan profesional di pasaran.

“Pendampingan ini diharapkan membantu mitra memiliki identitas produk yang lebih kuat dan mudah dikenali di pasaran,” tambah Ir. Rismul T. Salawali, S.T., M.T.

Inovasi yang lahir dari desa ini menjadi bukti bahwa kemajuan industri tidak selalu harus dimulai dari pabrik besar.

Dengan teknologi sederhana dan semangat kolaboratif, gula aren dari Bulo-Bulo kini tampil lebih berdaya saing, berstandar nasional, dan siap menembus pasar yang lebih luas.

Melalui kegiatan ini, AK-Manufaktur Bantaeng menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan teknologi tepat guna dan memperkuat kapasitas usaha kecil di berbagai daerah.

Karena dari dapur-dapur sederhana seperti di Bulo-Bulo, cita rasa kemajuan lokal bisa tumbuh menjadi kebanggaan bersama. (Lutfi)